Archive

Posts Tagged ‘tegar’

TEGAR yang harus tegar !

balita dilindaskan KA

balita dilindaskan KA

Ayah seharusnya melindungi keluarga, termasuk anak. Namun tak demikian dengan seorang bapak di Madiun, Jawa Timur, Minggu (5/7), yang sengaja membiarkan kaki anaknya terlindas kereta api di rel. Sungguh biadab perbuatan Puryanto, 27, warga Dusun Robahan, Kelurahan/Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun. Jengkel karena keinginannya bersebadan ditolak istri, Puryanto tega mencelakai anaknya dengan cara kakinya dilindaskan kereta api (KA) yang sedang melintas, Minggu (5/7) subuh.

Kini Endy Tegar Kurniadinata yang masih berusia 3,5 tahun itu sudah kehilangan sebelah kakinya, dan dokter sedang mengusahakan untuk memberikan kaki palsu. Anak pertama pasangan suami istri Puryanto dan Devi Kristiani, 25, yang biasa dipanggil Tegar itu hanya bisa memandangi kaki kanannya yang putus setelah ditabrakkan KA oleh ayahnya sendiri.

Lebih tragis lagi, beberapa saat setelah kakinya dilindas KA, Tegar dengan luka parah terpaksa harus berjalan merangkak pulang ke rumahnya untuk meminta tolong kepada kakek dan neneknya. Tak ada warga yang menolong, karena saat itu masih pagi buta, sekitar pukul 03.00 WIB. Sedangkan Puryanto kabur entah kemana, setelah melindaskan kaki anaknya tersebut.

Menurut penuturan Tegar saat ditemui Surya sebelum menjalani operasi di RSUP dr Soedono, saat tidur itu ia mendadak terbangun ketika tubuhnya diangkat ayahnya. Ia kemudian dibawa ke rel KA melalui pematang sawah yang berjarak sekitar 50 meter dari rumah. “Saya sudah tidak mau saat digendong, tetapi kata Bapak, saya harus ikut ke sawah,” kata Tegar dengan kalimat terputus-putus sembari menahan sakit.

Setelah itu, kata Tegar, tubuhnya dibaringkan paksa di atas rel KA. Beberapa saat kemudian muncul KA Bangunkarta jurusan Jakarta-Jombang yang melintas dari barat (Jakarta) menuju timur (Jombang). Kereta ini rutin melintas sekitar pukul 03.00 WIB.

Tidak ada saksi mata yang melihat bagaimana proses detilnya. Namun menurut Tegar, saat kereta itu lewat, tubuhya tetap dipegangi ayahnya, hingga kemudian kakinya terlindas KA sampai putus, tepatnya di titik beberapa sentimeter di atas mata kakinya.

Tegar mengatakan, setelah kakinya putus, ia masih tersadar, sementara ayahnya sudah tidak ada lagi di tempat itu. Terpaksa ia dengan menahan sakit berjalan merangkak sekitar 50 meter menuju rumahnya dengan melewati pematang sawah.

“Saya pulang dan berteriak-teriak memanggil kakek,” kata Tegar sambil menangis. Pantauan Surya, dari rel menuju ke rumah Tegar itu hanya bisa melewati pematang sawah. Baik di utara maupun selatan rel KA, hanya ada persawahan. Begitu sampai di depan pintu rumah, kakek dan nenek Tegar, Sukardi dan Saikem terbangun karena mendengar teriakan cucunya tersebut.

Saikem menuturkan, sekitar pukul 03.00 WIB itu ia mendengar Tegar memanggil-manggil nama kakeknya meminta tolong. Begitu membuka pintu, alangkah terkejutnya ketika melihat Tegar menangis dengan kaki kanan sudah buntung. Sukardi dan Saikem pun langsung membawa Tegar ke RSUP dr Soedono Madiun.

“Andai saja dua cucu saya tadi malam mau tidur dengan kami, saya yakin kejadiannya tidak sampai seperti ini. Saya sendiri saat melihat cucu saya menjerit minta toong, saya juga langsung menjerit kaget kenapa kakinya bisa putus,” papar Saikem.

Sedangkan Devi Kristiani mengaku marah pada ulah suaminya, apalagi meninggalkannya setelah melindaskan kaki anaknya hingga putus. “Saya tidak tahu dimana dia sekarang. Yang membuat saya marah, saya itu sedang bekerja jualan jenang di pasar, kok dia tega berbuat seperti itu pada anaknya,” kata Devi sembari menangis.

Sebagian berita dikutip dari http://www.surya.co.id/2009/07/06/jengkel-balita-dilindaskan-ka.html

Entahlah saya miris tersadar dengan adanya berita ini, tadi malam ketika saya menonton acara TV dan kebetulan sedang melakukan wawancara dengan ibunda Tegar, saya langsung tersentak, tidak tahu penjelasan masuk akal apa lagi yang bisa saya terima dengan keadaan ini.

Bukankah seorang anak harus dilindungi? Seorang anak yang seharusnya kita rawat dan jaga agar kelak dalam hidupnya mampu untuk berjuang. Puryanto, seorang ayah yang merasa terhina dan marah karena ditolak dilayani oleh istrinya mampu dengan kejamnya menggendong anaknya, kemudian memegang anaknya untuk melihat kaki anaknya terputus dilindas kereta api, kemudian entahlah dengan rasa bersalah atau tidak meninggalkan sang anak seorang diri, entah apa yang dipikirkannya ketakutan dengan perbuatan yang baru dilakukan atau pengharapan akan kematian anaknya.

Apa yang terjadi dengan Tegar adalah potret buram keadaan keluarga Indonesia, keadaan bangsa Indonesia. Terjadi di saat keramaian bangsa yang begitu antusias untuk menyambut pesta demokrasi, dengan begitu ramainya iklan dan kebohongan yang menyergap semua sendi kehidupan bangsa.  Terjadi di saat begitu banyak orang berteriak bahwa anak adalah generasi penerus bangsa yang harus diperhatikan dan dijaga. Sebuah fatamorgana, ilusi yang menguap ke permukaan, dengan dasar penuh kebohongan, kepalsuan dan keacuhan kita.

Akankah kita seperti Puryanto? Yang begitu kejam dan sadis membiarkan dan menghancurkan masa depan Tegar, memberikan trauma yang cukup mendalam dengan kehilangan satu kakiknya. Saya tidak pernah bisa membayangkan Tegar yang begitu bahagia dengan masa balitanya, berlarian bermain dengan teman-temannya, dan hari ini sudah harus menerima kenyataan kehilangan satu kaki karena perbuatan ayahnya. Sungguh tak pernah bisa saya bayangkan!

Tadi malam setelah saya menonton berita tentang Tegar dan berniat menuliskannya, ingatan saya teringat akan Farrell, buah hati saya. Nauzubillah, jangan sampai hal yang sama akan terjadi dengan anak saya, bagaimanapun kita harus melindungi anak-anak kita. Mungkin secara sadar hal seperti yang dilakukan oleh Puryanto saya yakin tidak akan saya atau teman-teman lakukan, tetapi sadarkah kita? Dalam kesengajaan atau ketidaksengajaan kita, tidak seperti Puryanto yang menghancurkan kaki Tegar, tetapi kita mungkin melakukan hal yang lebih kejam namun tak terlihat.

Sadarkah kita, mungkin kita pernah menghancurkan hati anak-anak kita, dengan semua tindakan yang kita lakukan. Pertengkaran dengan istri, tindakan yang kita lakukan dalam hal mendidik anak-anak kita mungkin tanpa kita sadari, telah membuat kita menjadi Puryanto lainnya. Mungkin Tegar bisa terbantu dengan kehadiran kaki palsu, tetapi bagaimana dengan hatinya? Atau mungkin dengan hati anak-anak kita yang tidak sengaja kita sakiti dan lukai?

Entahlah, saya sudah tidak sanggup lagi membayangkan nasib Tegar dan anak-anak kita. Semoga kita memang selalu diberi lindungan dan hidayah untuk tetap menjadi orang tua yang baik yang mampu menjaga dan merawat anak-anaknya. Semoga !

COMPLETE PACKAGE OF DONY ! is using WP-Gravatar